Kamis, Oktober 29, 2009
Rabu, Oktober 28, 2009
IBU .........
20.48
No comments
cerita ini i disalin dari catatan teman saya ..
membaca cerita ini untuk meditasi ...
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku benci padanya ... Dia itu seperti malu. .
Ada satu ini hari selama sekolah dasar di mana ibuku datang untuk menyapaku.
Aku sangat malu.
Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku?
Aku mengabaikannya, melemparkan pandangan yang penuh kebencian dan berlari keluar.
Keesokan harinya di sekolah salah satu teman sekelas saya berkata, "Eee, ibumu hanya
: mempunyai satu mata! "
Aku ingin mengubur diriku sendiri.
Aku juga ingin ibuku menghilang begitu saja ..
Aku dihadapkan hari itu dan berkata, "Jika Anda hanya akan membuat saya
tertawa saham, mengapa kau tidak mati? "
Ibuku tidak menjawab ....
Aku penuh kemarahan.
Aku ingin keluar dari rumah itu, dan tidak ada hubungannya dengan dia.
Jadi saya belajar sangat keras, mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri untuk belajar.
Kemudian, aku menikah.
Aku membeli rumah sendiri.
Aku punya anak dari saya sendiri
Aku senang dengan hidupku, anak-anak saya dan kenyamanan, Lalu suatu hari, saya
ibu datang mengunjungi saya.
Dia tidak melihat saya di tahun dan ia bahkan tidak bertemu dengannya
cucu.
Ketika ia berdiri di dekat pintu, anak-anak saya takut ..
Aku berteriak padanya, "Beraninya kau datang ke rumahku dan menakut-nakuti saya
anak-anak! "
KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!! "
Dan untuk ini, ibuku dengan tenang menjawab, "Oh, aku sangat menyesal. Saya mungkin
Mendapatkan alamat yang salah, "
Dan ia menghilang dari pandangan ..
Suatu hari, saya mantan tetangga datang dan mengatakan bahwa ibuku telah meninggal.
Aku tidak menitikkan setetes air mata ..
Mereka menyerahkan surat bahwa ia ingin aku punya ..
"Anak Sayangku,
Aku memikirkan Anda sepanjang waktu. Aku menyesal, bahwa Aku datang ke rumah Anda dan
takut anak-anak Anda.
Aku menyesal bahwa aku adalah malu terus-menerus kepada Anda ketika Anda
tumbuh dewasa.
Anda lihat ... ... ... ketika kau sangat kecil, Anda masuk ke suatu kecelakaan, dan
Kehilangan mata Anda.
Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihat Anda harus tumbuh dengan satu mata.
Jadi aku memberimu saya.
Aku sangat bangga dengan anakku yang sedang melihat seluruh dunia baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut.
Dengan semua cintaku padamu,
Ibumu .. :
membaca cerita ini untuk meditasi ...
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku benci padanya ... Dia itu seperti malu. .
Ada satu ini hari selama sekolah dasar di mana ibuku datang untuk menyapaku.
Aku sangat malu.
Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku?
Aku mengabaikannya, melemparkan pandangan yang penuh kebencian dan berlari keluar.
Keesokan harinya di sekolah salah satu teman sekelas saya berkata, "Eee, ibumu hanya
: mempunyai satu mata! "
Aku ingin mengubur diriku sendiri.
Aku juga ingin ibuku menghilang begitu saja ..
Aku dihadapkan hari itu dan berkata, "Jika Anda hanya akan membuat saya
tertawa saham, mengapa kau tidak mati? "
Ibuku tidak menjawab ....
Aku penuh kemarahan.
Aku ingin keluar dari rumah itu, dan tidak ada hubungannya dengan dia.
Jadi saya belajar sangat keras, mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar negeri untuk belajar.
Kemudian, aku menikah.
Aku membeli rumah sendiri.
Aku punya anak dari saya sendiri
Aku senang dengan hidupku, anak-anak saya dan kenyamanan, Lalu suatu hari, saya
ibu datang mengunjungi saya.
Dia tidak melihat saya di tahun dan ia bahkan tidak bertemu dengannya
cucu.
Ketika ia berdiri di dekat pintu, anak-anak saya takut ..
Aku berteriak padanya, "Beraninya kau datang ke rumahku dan menakut-nakuti saya
anak-anak! "
KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!! "
Dan untuk ini, ibuku dengan tenang menjawab, "Oh, aku sangat menyesal. Saya mungkin
Mendapatkan alamat yang salah, "
Dan ia menghilang dari pandangan ..
Suatu hari, saya mantan tetangga datang dan mengatakan bahwa ibuku telah meninggal.
Aku tidak menitikkan setetes air mata ..
Mereka menyerahkan surat bahwa ia ingin aku punya ..
"Anak Sayangku,
Aku memikirkan Anda sepanjang waktu. Aku menyesal, bahwa Aku datang ke rumah Anda dan
takut anak-anak Anda.
Aku menyesal bahwa aku adalah malu terus-menerus kepada Anda ketika Anda
tumbuh dewasa.
Anda lihat ... ... ... ketika kau sangat kecil, Anda masuk ke suatu kecelakaan, dan
Kehilangan mata Anda.
Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihat Anda harus tumbuh dengan satu mata.
Jadi aku memberimu saya.
Aku sangat bangga dengan anakku yang sedang melihat seluruh dunia baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut.
Dengan semua cintaku padamu,
Ibumu .. :
Pemimpin
20.39
No comments
Mungkin Sudah kodratnya manusia diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin, namun pada dasarnya menjadi seorang Pemimpin tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, perlu kesabaran dan pengertian di dalamnya.
Emosi terkadang akan mempermalukan kita sendiri, salah satu hal yang sulit dalam memimpin adalah ikhlas. ikhlas dalam segala hal.
Menerima kenyataan pahit terkadang menjadi cobaan yang menghadang banyak menjadi sorotan dalam diri kita, Berusahalah menjadi pemimpin yang baik. yang rindu :
1. Kritik dan saran
2. Kebenaran
3. Kebahagiaan.
dan semoga dengan jiwa kepemimpinan kita bisa membuat kita pandai dalam menempatkan diri dalam situasi apapun..
Emosi terkadang akan mempermalukan kita sendiri, salah satu hal yang sulit dalam memimpin adalah ikhlas. ikhlas dalam segala hal.
Menerima kenyataan pahit terkadang menjadi cobaan yang menghadang banyak menjadi sorotan dalam diri kita, Berusahalah menjadi pemimpin yang baik. yang rindu :
1. Kritik dan saran
2. Kebenaran
3. Kebahagiaan.
dan semoga dengan jiwa kepemimpinan kita bisa membuat kita pandai dalam menempatkan diri dalam situasi apapun..
POHON APEL
20.34
No comments
Sebuah cerita yang mungkin cocok tuk jadi bahan renungan untuk kita semua.
=)
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang dedaunan pohon apel. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi ber-main² dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain dengan pohon lagi.”jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain denganku lagi.” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain lagi denganku.” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf, anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apapun lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apapun lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Written by APRIADI;
=)
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang dedaunan pohon apel. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi ber-main² dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain dengan pohon lagi.”jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain denganku lagi.” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain lagi denganku.” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
“Maaf, anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apapun lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apapun lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Written by APRIADI;
Langganan:
Postingan (Atom)
